
https://open.spotify.com/playlist/02HtpjPgQxGuwlx4wwpeiN?si=a5ab83665cdb4098
<aside>
Cinta baginya kini hanyalah serpihan yang karam di dasar samudra kenangan, membusuk perlahan dalam pusaran ombak yang tiada kenal iba.
</aside>
| NAMA LENGKAP | Larung Buana |
|---|---|
| NAMA PANGGILAN | Larung, Aung, Uung |
| TEMPAT LAHIR | Yogyakarta |
| TANGGAL LAHIR | 9 Februari 2002 |
| TINGGI BADAN | 182 cm |
| BERAT BADAN | 141 lbs |
| GOLONGAN DARAH | A Rh+ |
| ZODIAK | Aquarius |
| MBTI | ESTP |
| ORIENTASI SEKSUAL | Heteroseksual |
| PEKERJAAN | Junior Mixing Engineer di Homa Studios |
| Gitaris dan vokalis band Suarasa | |
| PENDIDIKAN TERAKHIR | S1 Psikologi Universitas Indonesia |
| (2020-2025) | |
| DOMISILI SAAT INI | Jakarta Selatan, DKI Jakarta |
<aside>
Kali perdana bersua dengan Larung, kau akan langsung menyadari betapa kentara rasa percaya diri dan kemahirannya dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Ia tahu cara membaca situasi, tahu kapan harus menjadi pusat perhatian, dan tahu kapan harus mundur untuk memberi ruang bersuara bagi orang lain. Presensinya terasa nyaman—ada sesuatu yang membuatmu betah mendengar ucapannya, meski acap kali topiknya hanya sebatas perkara remeh-temeh, seperti ****tim bubur diaduk atau tidak.
Larung berjiwa bebas, spontan, menyukai tantangan, dan menginginkan otonomi dalam setiap tindak-tanduknya. Tak banyak yang mengira ia lulusan Psikologi, sebab citranya memang lebih membaur dengan seni—dengan tampilan nyentrik dan jemari yang lebih sering memetik jurai gitar dibanding menerka perilaku manusia.
Namun di balik segala kelakar dan personanya yang tampak mudah, ada ruang dalam dirinya yang tak tersentuh siapa pun. Ruang yang ia kunci rapat-rapat semenjak malam itu, ketika cinta yang ia percayai menjelma menjadi pengkhianatan. Sejak saat itu, ia belajar menertawakan luka, menyamarkan getir dengan gurauan, dan menampilkan dirinya seolah tak pernah ada yang goyah.
Mungkin itulah yang membuat Larung tak sepenuhnya mudah dibaca. Ia menyenangi interaksi, namun waspada dengan kedekatan. Ia cepat akrab, tapi jarang benar-benar terbuka. Dan alih-alih mendamba cinta, ia memilih menikmati pertemuan yang datang dan pergi tanpa mengikat, tanpa menuntut apa-apa. Ia menyapa, menggoda, tampak hangat, namun semua itu tak lebih dari pantulan cahaya di permukaan air—indah, tapi tak pernah bisa digenggam. Sebab di dasar dirinya, berakar satu keyakinan yang lahir dari pilu masa lalunya: bahwa cinta, bagi Larung, hanyalah sesuatu yang fana.
</aside>

<aside>
Ungkapan nama adalah doa barangkali memang benar adanya. Selaras dengan nama yang ia sandang, Larung Buana melanglang buana sepanjang hidupnya. Ia menumpang lahir di Yogyakarta, sempat tinggal sejemang di Bogor, bertahan cukup lama di Surabaya, dan kini menjejakkan kakinya seorang diri di ibu kota. Maka, ketika seseorang menanyakan dari mana asalnya, ia akan terdiam sejenak sebelum menjawab. Kadang ia menyebut Surabaya karena keluarganya kini menetap di sana, kadang ia menyebut kota kelahirannya, atau kota asal salah satu orang tuanya—namun tak jarang pula ia hanya mengendikkan bahu, seolah menyerah pada kebingungannya sendiri.
Ayah Larung mulanya bekerja di sebuah perusahaan multinasional, dan hal itulah yang menjadi alasan keluarga mereka kerap berpindah-pindah, hidup secara nomaden mengikuti lokasi penugasan sang ayah. Hingga ketika Larung menempuh pendidikan SMA di Jakarta, sang ayah harus pensiun karena terdiagnosis komplikasi ginjal. Kedua orang tua Larung, bersama adik perempuannya, kemudian memutuskan untuk menetap sepenuhnya di Surabaya dan mengelola sebuah restoran di bawah naungan bisnis keluarga sang ibu yang memang bergerak di bidang usaha makanan. Sementara itu, Larung sendiri tetap melanjutkan perantauannya di ibu kota karena sudah kadung berada di kelas dua belas—dan hal itu terus berlanjut hingga kini, ketika ia telah menapaki dunia kerja.
Saat ini Larung menjalani hari-harinya sebagai junior mixing engineer di sebuah label rekaman bernama Homa Studios, sembari menyalurkan jiwanya sebagai gitaris dan vokalis band indie bernama Suarasa. Hidupnya tak pernah jauh dari musik—bidang yang telah memikatnya sejak kecil dan kini menjadi denyut nadi di setiap langkahnya. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah tidur, Larung merangkai kehidupan yang selalu ia dambakan; kehidupan yang berdenyut di antara asa, karsa, dan kuasa atas kehendaknya sendiri.
</aside>
ⓒ 2025. ALL RIGHTS RESERVED. WRITTEN BY ELIAS.